DevPro_
Projects & Misc.

Aku Sudah Bukan Wanita

2025-09-18

(Mengandung Unsur Sensitif)

Musik bising di kejauhan masih terputar di dalam kepalaku, seperti kaset rusak yang terus mengulang lagu yang sama — meskipun konser itu sudah berlalu bertahun-tahun yang lalu — tujuh tahun, lebih tepatnya. Aku masih bisa merasakan dentuman bass mengguncang perutku. Nyanyian sumbang penyanyi murahan tuli nada, dan sorak-sorai orang-orang mabuk yang menggodaku. Semuanya tertanam dalam ingatanku, seakan menolak pergi. Sekarang, aku menutup jendela kamarku rapat-rapat. Aku tak bisa membiarkan sedikitpun suara dari luar masuk. Tidak ada celah sekecil apapun. Bahkan suara motor lewat pun membuatku tersentak dan tak nyaman. Jantung berdebar kencang, keringat dingin mengalir di sekujur kulit, kepala menoleh ke sana kemari. Panik datang tiba-tiba, tubuh ingin melarikan diri dan sembunyi, tetapi tak tahu kemana. Setiap sore, setelah selesai dengan rutinitas yang padat sekaligus hampa, aku kembali ke ranjang kamarku — duduk diam seperti menunggu sesuatu. Pikiranku kosong. Aku tidak bisa memikirkan apapun. Sunyi. Tidak ada suara selain hela nafas dan detak jantungku sendiri. Kulakukan ini sejak matahari terik mencapai puncak, hingga tenggelam tergantikan oleh bulan di malam yang dingin. Di pagi hari pun tidak jauh berbeda. Aku bangun, duduk sebentar di tepi ranjang, lalu menatap lantai yang dingin. Aku sering menatap bercak-bercak kecil di ubin yang tidak pernah hilang meskipun berkali-kali aku lap. Seolah noda itu menjadi cermin bagi hidupku yang tidak pernah bisa bersih lagi. Setelah itu aku hanya akan menyibukkan diriku dengan hal-hal kecil, sekadar agar tubuhku bergerak: menyeduh teh tanpa gula, mencatat sesuatu di buku harian tanpa isi, atau merapikan kembali barang-barang yang sebenarnya sudah rapi. Semua itu kulakukan bukan karena aku ingin, tapi karena aku takut kalau aku berhenti sepenuhnya, kepalaku akan kembali memutar kejadian itu lebih cepat, lebih keras, lebih nyata. “Ayo ikutlah, Ran! Kapan lagi, iya kan?” bujuk mereka dulu. “Kamu SMA cuman sekali, Rani — lagipula kan kita kesana bareng-bareng, ayolah!” “Iya, apalagi ini kan konser gratis! Jarang-jarang lho diadakan konser gratis seperti ini!” bujuk pula temanku yang lain, yang bahkan sudah kulupakan wajahnya. Aku percaya. Aku ikut. Dan hidupku berakhir sejak saat itu. Aku tidak ingat apa saja yang kulakukan dengan teman-temanku hari itu, atau apakah kami benar bersenang-senang. Semua terjadi begitu cepat. Setiap kali aku mencoba mengingat, pikiranku selalu teralihkan kepada gambar-gambar menjijikkan yang terbakar di benakku, dan perlakuan-perlakuan memaksa yang melanggar hakku. Aku ingat rasa serat kain yang mereka masukkan ke mulutku untuk meredam suara jeritanku. Sensasi perih di kulitku, saat pakaian-pakaianku dirobek paksa, dan ditarik keluar tubuhku. Masih bisa kurasakan di tangan dan kakiku, genggaman kencang yang menahan setiap gerakan. Semakin aku melawan, semakin keras genggaman itu. Keringat entah milik siapa yang teroleskan ke sekujur tubuhku. Tawa kejam mereka, kata-kata menyakitkan dan memalukan yang menusuk hati, mereka lontarkan tanpa pikir panjang. Jutaan jari-jemari — atau beberapa — yang meraba, menarik, mendorong tubuhku tanpa izin. Saat itu, aku tidak lebih dari benda hina pemuas nafsu. Aku tidak punya kendali atas diriku. Aku nyata, tetapi tak berguna. Walau kabur dan tak jelas, aku merasakan setiap detik malam itu. Setiap sentuhan, tamparan, genggaman kencang. Bagian tubuh mereka yang memasuki diriku dengan paksa. Asin dan pahit keringat mereka yang menempel di kulit. Bau tubuh mereka yang busuk dan menjijikkan. Tubuh telanjang mereka yang gendut dan jorok kulihat dari posisi yang menghinakan. Lalu, setelah puas, mereka membuangku begitu saja. Ditinggalkan sendiri, terbuka dan dingin, seperti tebu yang sudah habis dihisap dan dikunyah. Aku memuntahkan isi perutku, entah sudah tercampur apa saja. Badanku lemas, bergetar, bahkan untuk berdiri pun aku tidak mampu. Penglihatanku kabur, pendengaran bisu. Setiap gesekan pada kulit terasa menyakitkan. Air mata mengalir deras dengan mudahnya, melewati wajah, jatuh ke tanah. Aku mencari-cari temanku, memanggil nama mereka satu per satu. Sampai hari ini aku masih tidak tahu kemana mereka pergi. Bagaimana kejamnya mereka meninggalkanku sendiri. Hari ini, setelah bangun, aku mandi hanya dengan mengelap diri menggunakan tisu dan handuk. Aku tidak bisa mandi dengan air, karena setiap tetes yang menyentuh kulit membuatku jijik dan muntah. Semua cermin di rumah kututupi kain. Melihat tubuhku sendiri membuatku muak dan hina. Aku hanya memakan nasi putih, telur, dan tahu putih untuk sarapan. Tanpa garam, karena asin adalah rasa kulit mereka. Siang hari, aku kadang menambahkan sedikit tempe rebus, tapi selalu kubuang setengahnya, karena gigitan pertama sudah membuat lidahku mengingat rasa malam itu. Terlalu banyak hal di dunia ini yang mengingatkanku pada kejadian itu. Seolah semua objek di dunia bekerja sama, tidak ingin aku melupakan hari itu. Siang berlalu dengan hampa. Aku hanya memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain, lalu mengembalikannya. Menyalakan televisi tapi tidak menonton, hanya mendengarkan suara-suara asing untuk menutupi suara di dalam kepalaku. Kadang aku menulis satu kalimat di kertas, lalu merobeknya, lalu menulis lagi, lalu merobeknya lagi. Akhirnya, saat hari sudah sore, aku kembali ke ranjang. Aku selalu kembali. Kuraba tubuhku perlahan dengan tanganku. Luka-luka fisik di badanku memang sudah sembuh, tetapi jiwaku tidak pernah pulang sampai ke rumah sejak hari itu. Orang-orang bilang, “waktu akan menyembuhkan.” Tapi waktu hanya memberiku ruang untuk mengingat, mengulang, dan merasakan getir yang sama, lagi dan lagi. Betapa aku merindukan kehidupan biasa. Rindu bangun tidur tanpa bayangan buruk, dengan pikiran jernih dan semangat menjalani hari. Rindu memiliki teman, seseorang untuk diajak bicara tentang apapun itu. Saat aku masih menjadi manusia. Dengan mimpi. Dengan cita-cita. Dengan hati yang mampu mencintai, dan merasakan hangatnya dicintai. Aku menyesal. Bukan hanya karena mengikuti mereka saat itu, tetapi karena aku pernah percaya bahwa ada kebaikan di dunia ramai ini. Sekarang, kepercayaanku pada manusia habis. Kepercayaan hanyalah kelemahan; memberikannya berarti membuka dirimu untuk dimanfaatkan. Hari ini aku memberanikan diri melihat keluar jendela. Betapa damainya dunia? Sebuah keluarga lewat, sepertinya pulang dari taman. Seorang wanita yang telah menjadi ibu, bahagia bersama suami dan anak-anaknya. Melihat mereka, aku merasa asing. Bagaimana ia bisa mempercayakan tubuhnya pada suaminya, lalu hidup bahagia dengannya? Bagaimana ia bisa membiarkan orang itu menyentuhnya dengan kasih, dan bukan paksaan? Memandang mereka, hatiku bangkit sekaligus hancur. Hari ini aku sadar, bahwa aku tidak akan pernah menjadi seorang wanita lagi. Aku tidak akan pernah merasakan kehangatan cinta yang merangkul diriku dengan kasih sayang dan kepedulian sejati. Aku tidak akan pernah percaya akan hal itu lagi. Hal itu hanyalah akan menjadi fantasi murahan yang takkan aku dapatkan. Aku akan menghabiskan sisa waktuku yang pendek, duduk sunyi dan memutar cuplikan kejadian itu terus menerus. Terus, terus akan kulakukan, hingga air mataku kering, habis terkuras dan terserap oleh ranjangku. Hingga semua rasa sakit itu hilang. Hingga tubuhku kehilangan rasa oleh sentuhan apapun, dan hatiku mati, tak memiliki rasa benci maupun cinta kepada apapun yang ada. Hingga aku berjalan tanpa tujuan dalam dunia yang terlalu sibuk dengan diri mereka sendiri, menjalani hidup yang takkan pernah kumiliki. Aku akan berjalan terus, hingga kematianku mengakhiri kesengsaraan, dalam hidupku yang telah terbuang sia-sia. Kadang aku berpikir, mungkin kalau hari itu tidak pernah terjadi, aku sudah mencapai cita-citaku kala itu. Entah apa, aku sudah lupa.

TAMAT.

Ditulis oleh Pratistha Bhakti

contact me at contact@devpro.blog